Lailatul Ijtima’ Bergilir di Alasumur Lor, MWCNU Besuk Perkuat Silaturahmi dan Konsolidasi Ranting
Besuk – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Besuk kembali menggelar kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ bersama jajaran ranting dan badan otonom (banom) NU se-Kecamatan Besuk.
Kegiatan yang menjadi agenda rutin warga Nahdliyin itu berlangsung di kediaman Rais Syuriyah Ranting NU Alasumur Lor, Ustadz Ahmad, Rabu malam (17/6/2026).
Acara dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah MWCNU Besuk, pengurus lembaga, pengurus ranting NU, serta perwakilan Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor se-Kecamatan Besuk.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan istighasah, Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama sebagai ikhtiar spiritual memohon keselamatan, keberkahan, serta kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Tuan rumah kegiatan, Rais Syuriyah Ranting NU Alasumur Lor Ustadz Ahmad, menyampaikan rasa syukur karena rantingnya mendapat kesempatan menjadi lokasi pelaksanaan Lailatul Ijtima’.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam mempererat hubungan antar-pengurus NU sekaligus menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama.
“Kami bersyukur dapat menjadi tuan rumah Lailatul Ijtima’. Semoga kegiatan ini terus berjalan istiqamah dan menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antarjajaran Syuriyah maupun Tanfidziyah ranting se-Kecamatan Besuk,” ujarnya.
Ia berharap tradisi Lailatul Ijtima’ yang digelar secara bergilir dapat semakin menghidupkan aktivitas keagamaan dan organisasi di tingkat ranting.
“Forum seperti ini penting untuk menjaga kekompakan, saling mengenal, dan memperkuat komunikasi antarpengurus. Dengan silaturahmi yang baik, insyaallah NU akan semakin kuat dalam melayani umat,” tambahnya.
Sementara itu, Rais Syuriyah MWCNU Besuk, Ustadz H. Abu Bakar, S.Ag., M.Pd.I, menegaskan bahwa Lailatul Ijtima’ merupakan salah satu kegiatan pokok Nahdlatul Ulama yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
Ia mengungkapkan, pentingnya menghidupkan kembali tradisi tersebut juga pernah ditekankan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, KH Moh. Zuhri Zaini.
“Kiai Zuhri pernah berpesan, tolong Lailatul Ijtima’ dihidupkan kembali. Tidak ada pesan lain selain itu. Beliau melihat kondisi dunia saat ini sudah berada pada titik yang memprihatinkan. Persoalan umat tidak cukup diselesaikan secara lahiriah, tetapi juga membutuhkan ikhtiar batiniah dengan mengetuk pintu langit,” tuturnya.
Menurut Abu Bakar, konsistensi dalam menjalankan kegiatan keagamaan jauh lebih penting dibanding jumlah peserta yang hadir.
“Kalau di Ansor ada Rijalul Ansor. Begitu pula Lailatul Ijtima’. Meski yang hadir tidak banyak, yang paling penting adalah istiqamah,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai Lailatul Ijtima’ tidak hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga wahana konsolidasi organisasi hingga tingkat akar rumput.
“Lailatul Ijtima’ bukan hanya mengetuk pintu langit, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi sesama pengurus. Dengan begitu, MWC mengetahui kondisi ranting di bawahnya, tidak sekadar mengenal nama yang tercantum dalam surat keputusan,” tandasnya.
Program Lailatul Ijtima’ MWCNU Besuk sendiri dilaksanakan secara bergilir dari satu ranting ke ranting lainnya.
Selain menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, kegiatan tersebut menjadi media memperkuat ukhuwah nahdliyah serta mempererat sinergi antarlembaga dan badan otonom NU di Kecamatan Besuk.


Posting Komentar